Jika sekarang diibaratkan kita sedang berjalan di tengah hutan belantara yang gelap gulita, maka tujuan hidup kita bagai lentera yang sinarnya berkilau dari kejauhan. Dengan susah payah kita akan menuju lentera itu karena hanya itu yang kita lihat. Kita tidak peduli dengan apa yang menghadang di depan kita. Ada kalanya kaki kita tertusuk duri atau tersandung batu, namun kita terus melangkah. Ada kalanya kita terperosok ke dalam jurang, namun kita akan naik lagi dan terus melangkah. Ada kalanya tiba-tiba tembok yang tinggi menjulang berdiri kokoh di hadapan, namun kita akan tetap memanjat dan melewatinya. Setelah melihat sinar lentera itu, kita terus menuju ke arahnya.

Dengan perjuangan yang panjang, akhirnya kita dapat mencapai lentera itu. Setelah lentera ada di tangan, kita pun melihat cahaya lentera lain yang kilau cahayanya lebih besar. Dengan diterangi lentera tadi, kita melanjutnya perjalanan menuju ke arahnya, begitu seterusnya sampai akhirnya menuju ke sumber dari segala sumber cahaya, mencapai pencerahan jiwa dan mengetahui hakikat hidup yang sesungguhnya untuk kemudian menggapainya.

Tanpa cahaya lentera, kita tak bisa melihat apa-apa; yang ada hanya kegelapan. Tanpa cahaya lentera, kita tak akan tahu harus melangkah ke mana. Tanpa cahaya lentera, kita akhirnya akan berjalan dalam kehampaan dan hanya menunggu waktu tubuh ini lapuk dimakan usia sebelum akhirnya mati menyatu dengan tanah.

Donald H. Weiss dalam bukunya, “How to Control Your Life Through Self Management” atau yang dalam edisi Indonesia diberi judul “Hidup Teratur”, memberikan beberapa kata kunci kaitannya dengan “tujuan hidup” sebagai berikut :

*
Tujuan C suatu titik akhir yang Anda ingin capai sebagai hasil akhir/produk akhir dari upaya Anda. Suatu pembayaran dari dan untuk upaya Anda.
*
Sasaran C suatu langkah menuju pencapaian suatu tujuan, suatu tonggak, tujuan antara; suatu ukuran dari keberhasilan Anda dalam mencapai tujuan akhir dari upaya Anda.
*
Pernyataan tujuan C ekspresi hasil yang diharapkan, entah itu berupa tujuan akhir atau sasaran; pernyataan itu terdiri dari target, batas waktu, dan sarana atau kondisi yang mempengaruhi pencapaian hasil.

Jadi kalau disederhanakan, hendaknya kita punya tujuan-tujuan kecil (tujuan antara) yang akan mengantarkan kita pada pencapaian tujuan tertinggi hidup kita. Dan yang jelas tujuan itu harus jelas, realistis, memiliki batas waktu pencapaian sebagai ukuran keberhasilan dan memiliki antisipasi terhadap kemungkinan adanya hambatan karena hidup ini penuh tantangan. Setelah mencapai tujuan antara tersebut, kita harus terus melangkah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Begitu seterusnya hingga kita mencapai tujuan hidup kita yang teragung.

Dengan adanya tujuan hidup yang jelas, kita bisa melangkah dengan pasti tak peduli seganas apapun jalan yang harus dilalui. Banyak kisah yang dapat kita baca, yang mana seseorang rela menjadi seorang office boy, namun beberapa tahun kemudian kita mengenalnya sebagai seorang dosen, trainer, pengusaha, dan juga motivator. Atau seseorang yang mau menjadi seorang salesman jalanan yang harus mengetuk pintu-pintu dan ribuan kali ditolak, namun beberapa tahun kemudian kita mengenalnya sebagai praktisi bisnis, investor, dan pendidik yang karya-karyanya menginspirasi jutaan manusia di dunia. Tujuan hidup yang mengkristal membuat kita tetap beroleh cahaya walau dunia kita seakan-akan sedang gelap gulita. Dan ketika mentari bersinar kita akan tersenyum bahagia karena menyadari kita masih berada di jalan yang kita tuju. Tidak seperti mereka yang hidup tanpa tujuan, setelah mendapati jalannya berujung semak belukar, mereka berbalik arah mencari jalan lain yang lebih mudah padahal jalan yang baru itu tak berujung. Atau mereka yang mendaki tangga, setelah lama nian mendaki tingkat demi tingkat, sampai di atas baru mereka sadar tenyata tangga yang mereka daki bersandar di dinding yang salah.

BELAJAR DARI KEGAGALAN

Tidak ada seorangpun yang telah mencapai kesuksesan yang belum pernah bertemu dengan suatu bentuk kegagalan yang sebanding dengan keberhasilannya. Tidak ada seorang penemu di dunia ini yang belum pernah mengalami kegagalan dalam percobaannya. Thomas Edison gagal lebih dari sepuluh ribu kali dalam percobaannya, sebelum menemukan rumus yang tepat untuk bola lampu temuannya. Suichiro Honda gagal berkali-kali sebelum menemukan sepeda motornya yang kini merajai jalanan di berbagai penjuru dunia.

Memang pada umumnya kekalahan atau kegagalan itu menyakitkan pada awalnya. Tapi bukan berarti kegagalan itu buruk bagi kita, kecuali kita menerima kegagalan itu sebagai kekalahan dan menghentikan langkah kita. Menurut Napoleon Hill, kegagalan adalah satu bahasa yang digunakan oleh alam untuk berbicara kepada makhluk hidup untuk menunjukkan kesalahan. Dengan kegagalan kita menjadi rendah hati sehingga dapat memperoleh kebijaksanaan dan pengertian. Kita harus menyadari bahwa titik balik ketika kita mulai mencapai kesuksesan/kejayaan, biasanya ditandai oleh suatu bentuk kekalahan atau kegagalan.

Di sekolah, kalau kita salah biasanya kita akan dihukum. Namun di dunia nyata, ketika kita bekerja atau merintis usaha, sering kita melakukan kesalahan-kesalahan pada awalnya, dan setelah melalui proses perbaikan diri, kita menjadi semakin baik. Dengan belajar dari kesalahan-kesalahan kita, kita jadi tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Kita menjadi tahu standar kinerja yang baik dan kiat-kiat untuk maju. Bagitu juga dengan kegagalan, dengan mengalami kekalahan atau kegagalan, kita akan menemukan sifat pemikiran kita dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan kita. Kita akan melipatgandakan upaya untuk pencapaian tujuan kita dengan perbaikan diri yang terus-menerus.

Sahabat, jangan takut menghadapi kegagalan! Apapun bentuk kegagalan kita, besar atau kecil, percayalah ada pelajaran yang dapat kita ambil dari itu semua agar kita menjadi lebih dewasa dan bijaksana, sehingga lebih berhati-hati dalam langkah berikutnya. Jangan anggap kegagalan sebagai kekalahan, tapi jadikan kegagalan membuat kita memodifikasi reaksi dan strategi untuk terus berusaha mencapai tujuan, mengubah nasib buruk menjadi nasib baik.

Hidup kita bergerak dinamis, tidak hitam putih seperti televisi jaman dahulu. Tidak ada orang yang bersedih terus-menerus, kecuali pikirannya memang hanya bisa memikirkan kesedihan. Tidak ada juga orang yang hidupnya senang, gembira atau bahagia sepanjang waktu. Demikian juga, tidak ada orang yang gagal dan kalah seterusnya, kecuali ia berhenti mencoba. Suka dan duka silih berganti, kalah dan menang dipergilirkan.

Orang yang tidak pernah gagal, sekali ia terjatuh, biasanya ia akan masuk ke dalam lubang yang amat dalam, terasa amat menyakitkan dan sulit untuk bangkit kembali. Tapi dengan kegagalan, kita bangkit, mencoba lagi, dan berhasil; demikian seterusnya. Dan ketika kesulitan datang lagi, kita telah menjadi lebih bijaksana dan rendah hati. Jika kita menerima kegagalan sebagai ilham untuk berusaha lagi dengan tekad dan keyakinan yang diperbarui, maka mencapai kesuksesan hanyalah persoalan waktu belaka. Seperti kata pepatah, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”.